Inovasi

Peneliti Adelaide Temukan Cara Meningkatkan Sensor Kuantum untuk Pencitraan Otak

Terobosan baru dalam dunia TEKNOLOGI kuantum membuka peluang besar bagi pengembangan perangkat pencitraan otak yang lebih sensitif dan akurat. Tim peneliti dari Adelaide University, Australia, berhasil menemukan pendekatan inovatif untuk meningkatkan kemampuan sensor kuantum dalam mendeteksi medan magnet yang sangat lemah. Penemuan yang diumumkan pada 27 Oktober 2026 ini berpotensi mendukung kemajuan diagnostik medis, pemantauan aktivitas otak, hingga sistem komunikasi modern. Melalui perubahan sederhana pada rancangan rangkaian superkonduktor, para ilmuwan menawarkan solusi terhadap keterbatasan sensor yang selama ini menjadi tantangan dalam pengembangan perangkat pengukuran berpresisi tinggi.

Inovasi Sensor Kuantum dari Adelaide University untuk Dunia Medis

Tim ilmuwan dari Adelaide University memperkenalkan metode inovatif untuk meningkatkan kinerja sensor kuantum yang menggunakan rangkaian superkonduktor. Kajian ilmiah ini dilaksanakan oleh Quantum and Nano Technology Group atau QuaNTeG, dengan tujuan penting mengatasi tantangan desain pada perangkat Superconducting Quantum Interference Device atau SQUID. Sensor tersebut memiliki keunggulan berupa mengidentifikasi perubahan medan magnet yang amat lemah. Keunggulan ini menjadikannya perangkat bernilai tinggi dalam berbagai penelitian ilmiah, termasuk sistem pencitraan otak yang mengandalkan tingkat sensitivitas sangat tinggi untuk mengenali sinyal biologis.

Pengembangan yang dilakukan tim Adelaide dikoordinasikan oleh Associate Professor Giuseppe Tettamanzi dari School of Chemical Engineering Adelaide University. Pada pengembangan teknologi tersebut, tim turut didukung oleh mahasiswa doktoral Ross Monaghan dan Jonathan Marenkovic. Hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Physical Review Applied tersebut menghadirkan solusi baru bagi perancang sensor. Berbeda dengan rancangan sebelumnya yang memerlukan banyak struktur dengan ukuran berbeda, metode ini menerapkan susunan komponen yang lebih sederhana. Keunggulan tersebut membuka kesempatan memperbaiki kinerja sensor tanpa perlu menurunkan sensitivitas pengukurannya.

Cara Kerja Sensor Kuantum dalam Mendeteksi Aktivitas Otak

Instrumen pengukuran kuantum bekerja dengan prinsip fisika kuantum untuk mengidentifikasi perubahan lingkungan yang sangat kecil. Dalam kajian aktivitas otak, kemampuan tersebut mempunyai nilai besar karena aktivitas listrik sel saraf menciptakan medan magnet yang berintensitas rendah. Teknik pemeriksaan yang mengandalkan pengukuran medan magnet otak adalah magnetoensefalografi atau MEG. Metode ini memberikan kesempatan kepada tenaga ahli untuk menganalisis aktivitas saraf berdasarkan perubahan medan magnet. Memiliki prinsip berbeda dibandingkan pencitraan yang berfokus pada struktur anatomi, MEG memberikan informasi mengenai perubahan aktivitas jaringan saraf dengan kemampuan pengamatan waktu yang rinci.

Pada perangkat berbasis superkonduktor, SQUID menggunakan sifat material superkonduktor yang mempertahankan karakteristiknya pada kondisi suhu ekstrem rendah. Bagian utama dalam banyak rancangan SQUID adalah Josephson junction, yaitu elemen superkonduktor yang mendukung munculnya efek kuantum pada rangkaian. Melalui mekanisme tersebut, perubahan fluks magnetik yang berintensitas rendah dapat diterjemahkan menjadi sinyal yang memungkinkan pemrosesan lebih lanjut. Walaupun memiliki sensitivitas tinggi, pengembangan sensor tetap memiliki tantangan ketika harus menentukan nilai medan magnet absolut. Hambatan teknis tersebut memotivasi para ilmuwan Adelaide untuk mengembangkan rancangan yang lebih sederhana tanpa melemahkan keunggulan sensitivitas sensor.

Pendekatan Synthetic Area Spread pada Sensor Superkonduktor

Aspek paling menarik dari inovasi sensor tersebut adalah penggunaan struktur yang disebut bare loops. Bagian rangkaian ini merupakan jalur tertutup superkonduktor yang tidak memiliki Josephson junction. Pada metode yang lebih lama, pengembang menggunakan banyak loop dengan ukuran berbeda untuk mengurangi kesulitan menentukan medan magnet absolut. Kendati pendekatan sebelumnya mampu memberikan hasil, kompleksitas rangkaian dapat menurunkan sensitivitas perangkat. Sebagai pendekatan baru, para peneliti mempertahankan loop dengan ukuran sama, kemudian memodifikasi beberapa bagian menjadi bare loops untuk membentuk respons magnetik yang lebih menguntungkan.

Pendekatan tersebut memunculkan fenomena yang dinamai synthetic area spread. Dalam penjelasan yang mudah dipahami, fenomena ini membuat rangkaian dengan loop berukuran sama menunjukkan karakteristik seolah-olah memiliki banyak loop dengan luas berbeda. Efek tersebut dihasilkan oleh perubahan cara sinyal magnetik berinteraksi di dalam jaringan superkonduktor. Melalui pengaturan ini, kebutuhan menggunakan berbagai ukuran fisik loop dapat dikurangi. Inovasi ini membuka peluang memperbaiki proses perancangan perangkat sekaligus menjaga kondisi yang penting untuk mencapai sensitivitas yang optimal.

Peluang Inovasi Kuantum dalam Penelitian Kesehatan Otak

Kemajuan perangkat pendeteksi magnetik membuka peluang bagi pemantauan aktivitas otak yang mengandalkan pengukuran sinyal sangat halus. Pada penerapan neurologi, peningkatan kualitas detektor berpotensi membantu sistem pengukuran menangkap perubahan medan magnet dengan gangguan pengukuran lebih rendah. Informasi tersebut berpotensi bermanfaat untuk memahami bagaimana jaringan saraf mengirimkan sinyal selama aktivitas tertentu. Sebagai contoh, pengukuran magnetik otak dapat digunakan untuk meneliti respons otak terhadap rangsangan. Walaupun prospeknya menjanjikan, penelitian Adelaide belum membuktikan bahwa rancangan baru ini sudah menghasilkan manfaat klinis langsung.

Selain untuk pencitraan otak, sensor superkonduktor yang memiliki kinerja lebih baik juga berpotensi mendukung berbagai kebutuhan pengukuran elektromagnetik. Contohnya meliputi perangkat radiofrekuensi, sistem komunikasi dengan gangguan rendah, dan instrumen penelitian fisika. Dalam lingkungan medis, kualitas pengukuran merupakan aspek mendasar karena sinyal biologis sering kali memiliki amplitudo rendah. Meski demikian, peningkatan kemampuan satu komponen sensor tidak dengan sendirinya memastikan pemeriksaan yang lebih cepat bagi pasien. Banyak komponen pendukung seperti pemrosesan sinyal, pengendalian gangguan lingkungan, sistem pendinginan, dan validasi medis perlu diuji secara menyeluruh sebelum teknologi digunakan dalam pelayanan rutin.

Langkah Peneliti Menguji Rancangan Sensor Superkonduktor

Guna membuktikan pendekatan yang dikembangkan, tim Adelaide melengkapi analisis teori dengan percobaan laboratorium. Kelompok ilmuwan tersebut menyiapkan rangkaian superkonduktor yang disusun sesuai kebutuhan penelitian, kemudian mengujinya pada suhu ekstrem rendah. Pengamatan laboratorium mengonfirmasi bahwa perangkat memberikan respons sejalan dengan prediksi teori. Hasil validasi ini memberikan dukungan kuat bahwa pengaturan bare loops berhasil memunculkan synthetic area spread. Kendati percobaan menunjukkan kesesuaian, penelitian ini masih berada dalam tahapan pengembangan sebelum teknologi diterapkan dalam sistem medis nyata.

Tantangan berikutnya adalah meningkatkan performa sensor dan mengevaluasi kesesuaiannya untuk berbagai aplikasi praktis. Pada tahap penelitian lanjutan, para pengembang harus memperhatikan stabilitas perangkat, kebutuhan pendinginan, karakteristik gangguan, serta potensi penggabungan dengan sistem elektronik lainnya. Nilai tambah rancangan baru adalah kemungkinan mengurangi kerumitan proses fabrikasi karena tidak menuntut pembuatan banyak loop dengan ukuran yang berbeda. Meskipun begitu, penyederhanaan desain belum berarti bahwa biaya produksi massal pasti lebih murah. Gagasan teknologinya juga diajukan melalui permohonan paten internasional, sementara studi lanjutan sedang dikembangkan untuk menyempurnakan kemampuan perangkat.

Penutup: Peluang Besar Inovasi Kuantum bagi Dunia Medis

Inovasi yang dikembangkan tim QuaNTeG menunjukkan bahwa pendekatan rekayasa yang tepat berpotensi menciptakan kesempatan pengembangan teknologi sensor kuantum. Dengan menerapkan bare loops dan fenomena synthetic area spread, para ilmuwan berhasil memperkenalkan solusi terhadap tantangan teknis yang berlangsung lama pada perangkat SQUID. Kemajuan ini membuka kemungkinan untuk mendukung perkembangan TEKNOLOGI pencitraan otak, pengukuran elektromagnetik, dan perangkat komunikasi sensitif. Meski demikian, pengujian tambahan dan pengembangan sistem masih diperlukan sebelum manfaatnya dapat dirasakan dalam penggunaan klinis. Bagaimana pendapat Anda, apakah sensor kuantum akan memainkan peran sebagai salah satu teknologi penting dalam pemeriksaan otak masa depan? Bagikan pandangan Anda mengenai masa depan sensor kuantum.

Related Articles

Back to top button